Thursday, January 03, 2019

tanggal 26 Desember untuk kita semua

Adakah kita sadari...???

Aceh
Tsunami
26-12-2004

Bohemia
Gempa
26-11-1902

Jogja
Gempa
26-05-2006

Tasik - Jawa Barat
Gempa
26-06-2010

Gunung Merapi
Meletus
26-10-2010

Jambatan Tenggarong
Samarinda, Indonesia
Runtuh
26-09-2013

Mengapa semua ini
Terjadi pada Tgl. 26

Apakah ini suatu kebetulan??

Bukalah dan bacalah
Al-Quran Juz ke: 26

Allah SWT telah berfirman.

Bunyinya :

"Sedikit waktu lagi Aku akan menggoncang kan langit dan bumi, laut dan darat".

Biar mereka semua tahu bahwa Mu'jizat Allah itu ada !!!

Jika sudi...

Sampaikanlah kepada hamba Allah yg lain... wallahu'alam...

Ternyata Cuma 1.5 jam⌚ saja Umur Kita hidup di DUNIA ini.

Mari kita lihat berdasarkan Al-Qur'an sebagai sumber kebenaran yang hakiki
1 hari akhirat = 1000 tahun dunia
24 jam akhirat = 1000 tahun dunia
3 jam akhirat = 125 tahun dunia
1.5 jam akhirat = 62.5 tahun dunia

Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1.5 jam saja.

Pantaslah kita selalu diingatkan tentang masalah waktu. ⌛⏰

Allah berfirman : "Kamu tidak tinggal (di dunia) melainkan sedikit masa saja, kalau kamu dahulu mengetahui hal ini (tentulah kamu bersiap sedia)"

Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk meniti perjalan hidup kita ini.

Kuatkan berfikir utk akhirat.
Karena dunia ini akan kita tinggalkan.

Fokus akhirat
Itulah tempat kita akan hidup seterusnya.

Ingatlah ini :
untuk diri saya sendiri.
Mayat orang Islam yang tidak sembahyang pada 1000 tahun dulu masih disiksa hingga kini.

Allahuakbar!!! 1 waktu kita tinggalkan sholat sama dengan 8000 tahun siksaan neraka. Jika kita sehari 5 waktu x sholat?

5 x 8000 = 40.000
tahun.

TIps antisipasi debu vulkanik

antisipasi debu kalau naik motor pakai masker (agar tdk tehirup) dan kacamata (agar tidak masuk dan perih ke mata). kalau mobil jika tdk diperlukan jgn gunakan wiper (bs menggores kaca). yg perlu diperhatikan adalah anak kecil agar tidak terlalu byk main diluar untuk menghindari penyakit ispa dan mata.
abu vulkanik sedikit kasar, tdk seperti debu kotoran/jalanan. dijaga dan tetap tenang dan tidak perlu panik berlebih

Kita harus punya 10 buah-buahan yg hrs kita miliki

Kita harus punya 10 buah-buahan yg hrs kita miliki, dan kita makan di akhir Th 2018 ini,  agar kita sehat Jasmani & Rohani di Th 2019, dan di tahun2 berikutnya, yaitu 10 buah2an sbb :
1.Markisa
( Mari kita sabar)
2.Stroberi
( Selalu Introspeksi Belajar Rendah Hati)
3.Salak
( Selalu baik dalam bertindak)
4.Jeruk
( Jangan berbuat buruk)
5.Pisang
( Pantang iri, Sombong dan Angkuh)
6.Anggur
( Anda Gemar Bersyukur)
7.Melon
( Menolong orang lain)
8.Tomat
( Tobat sebelum kiamat)
9. Talas
( Tak ada kata malas)
10. 勒Mentimun
( Menuntut ilmu tidak banyak melamun)
Selamat menikmati Buah Kebaikan......
Mohon ma'af atas kesalahan di th 2018

*MBAH JUM* Oleh : Irene Radjiman

Begitulah beliau dipanggil. Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun yang lalu saat berlibur di *Kasian*, Bantul, Yogyakarta. Nama desanya saya lupa.

Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung sholawat.

Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia juga bekerja sebagai kuli panggul di pasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang kembali untuk mengantar simbahnya pulang ke rumah.

Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes. Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lainnya.

Sebelum pulang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari *50 ribu rupiah*, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.

Saat kutanya cucunya: “Kenapa begitu?”

“Karena kata simbah, modal simbah bikin tempe cuma 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan di masjid mbak, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, saya diminta simbah masukin uang lebihnya ke masjid.”

“Lho, kalo sampai lebih dari 50 ribu, itukan hak simbah, kan artinya simbah saat itu bawa tempe lebih banyak to?” tanyaku lagi

“Nggak mbak. Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga berubah-ubah jumlahnya sama.” Cucunya kembali menjelaskan padaku.

“Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda?” tanyaku lagi

“Begini mbak.. kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang.. ambil sendiri kembaliannya. Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, gak ada kembalian. Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu. Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, gak ada kembalian. Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu. Yaaa.. 300 ribunya saya taruh di kotak amal masjid.” Begitu penjelasan sang cucu.

Aku melongo terdiam mendengar penjelasan itu.
Di saat semua orang ingin semuanya menjadi uang, bahkan kalau bisa kotorannya sendiri pun disulap menjadi uang, tapi ini mbah Jum..?? Aahh..
Logikaku yang hidup di era kemoderenan jahiliyah ini memang belum sampai.

Sampai rumah pukul 10:00 pagi beliau langsung masak untuk makan siang dan malam.

Ternyata mbah Jum juga seorang tukang pijat bayi (begitulah orang dikampung itu menyebutnya). Jadi bila ada anak-anak yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah-muntah dan lain-lain, biasanya orang tua mereka akan langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bahkan bukan hanya untuk pijat bayi dan anak-anak, mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya.

Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya.

Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu masukkan lagi 100% ke kotak amal masjid.
Ya.. 100% !
Anda kaget? Sama, saya juga kaget.

Ketika aku kembali bertanya : “Kenapa harus semuanya dimasukkan ke kotak amal?”

Mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :
“Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.”
(Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah).

Lagi-lagi aku terdiam..
Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih. Ternyata manusia yang datang dari peradaban kapitalis akan terkaget-kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini.

Dimana di era kapitalis orang sekarat saja masih bisa dijadikan lahan bisnis, jangankan bicara GRATIS, dengan menggunakan kartu BPJS saja sudah membuat beberapa oknum medis sinis.

Mbah Jum tinggal bersama 5 orang cucunya. Sebenarnya yang cucu kandung mbah Jum hanya satu, yaitu yang paling besar usia 20 tahun (laki-laki), yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum berjualan tempe dipasar. 4 orang cucunya yang lain itu adalah anak-anak yatim piatu dari tetangganya yang dulu rumahnya kebakaran. Masing-masing mereka berumur 12 tahun (laki-laki), 10 tahun (laki-laki), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).

Dikarenakan kondisinya yang tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa membaca dan menulis, namun ternyata ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah..

Cucunya yang paling besar ternyata guru mengaji untuk anak-anak dikampung mereka. Ke-4 orang cucu-cucu angkatnya ternyata semuanya sudah qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.

“Kulo niki tiang kampong. Mboten saget ningali nopo-nopo ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener-bener adil kaleh kulo.”
(saya ini orang kampong. Tidak bisa melihat apapun dari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu benar-benar adil sama saya).

Itu kata-kata terakhir mbah Jum, sebelum aku pamit pulang ...

Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya. Kurasa saat itu bidadari surga iri melihat mbah Jum, karena kelak para bidadari itu akan menjadi pelayan bagi mbah Jum.

_Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi 5 tahun yang lalu yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta._

🙏🙏🙏🙏🙏

Refleksi Awal 2019

Kabar dusta, berita palsu, pernyataan bohong, dan sejenisnya akan terus berbiak menjelang hari pencoblosan pilpres April 2019 mendatang. Ini strategi yang disengaja, didesain secara saintifik dengan memanfaatkan algoritma media sosial dan jejaring internet. Dikemas secara cantik, seolah-olah masuk akal, diisi dusta yang kontroversial, dan didistribusikan melalui pelbagai macam kanal secara serentak. Udara dikepung dusta. Beringsut ke delapan penjuru mata angin.

Mengapa ada orang yang mau mendesain, memproduksi, dan menyebarkan dusta? Hanya satu alasan: duit! Mengapa ada orang terdidik yang mau menyumbangkan waktu, tenaga dan serta peran sentral dalam manufaktur dusta itu? Hanya satu dalih: duit!  Mengapa mereka tak terusik secara moral dalam proses pembuatan dan penjalaran dusta? Hanya ada satu pertimbangan: moral tidak tercantum dalam vokabuler politik di Indonesia. Mengapa mereka yang maniak agama melibatkan diri dalam amplifikasi dusta? Ada banyak pembenaran. Salah satunya: siasat. Anggap dan tafsirkan saja lawannya sebagai kafir. Sekian dalil dan sekian sumber tekstual dapat dijadikan panduan. Rampung. Kalau dianggap atau ternyata keliru, ada pintu keluar: pertobatan. Simpel. Mengapa simpel? Karena bagi seorang "politico-religio-maniacal",  dosa, pertobatan, dan pengampunan sudah biasa berjalan-jalan di dalam kepalanya. Merasa berdosa, merasa bertobat, dan merasa telah diampuni. Semua berkubang dalam kepalanya sendiri. Dan itu sudah biasa. Ala bisa karena biasa. Simpel bukan?

Tak ada strategi dan taktik yang jitu untuk menghabisi dusta. Sebab *sekali dusta menyebar, dan algoritma berjalan, tak ada yang bisa menghapusnya*, tak juga penyebarnya sendiri. Mereka seperti menyayat guling berisi kapas di atap rumah. Begitu kapas beterbangan disapu angin ke segala penjuru,  tak ada lagi yang dapat memungutinya kembali secara utuh.

Dalam politik di negeri ini, moral tak dikenal, hanya modal yang dirapal dan diunthal. Rakyat? Mereka tumbal kekal.

Keluarga Besar Oppung Willy Sihite

Tuesday, December 18, 2018

Meriyati Roeslani

Meriyati Roeslani lahir pada 23 Juni 1925. Tak banyak yang diketahui dari masa kecilnya. Ia dinikahi oleh Hoegeng Imam Santoso pada tanggal 31 Oktober 1946.

Beberapa bulan setelah menikah, Hoegeng masih menjadi kadet Akademi Kepolisian Yogyakarta mendapat tugas dari Kapolri saat itu, R.S. Soekanto, untuk menyusun jaringan sel intelijen subversi, dengan tugas menghimpun informasi, hingga membujuk pasukan NICA membelot dan membela Indonesia.

Meski tidak digaji, Hoegeng menjalani tugasnya dengan rasa nasionalisme yang tinggi.

Untuk memuluskan penyamarannya, ia memutuskan melamar menjadi pelayan sebuah restoran yang biasa didatangi orang Indonesia dan orang Belanda bernama "Pinokio". Di sana, Hoegeng diterima menjadi pelayan namun, lagi-lagi tak ada gaji untuknya. Sebagai ganti, pemilik resto memberikan makanan gratis tiap hari untuk pegawainya. Di tempat yang sama, Merry juga berjualan sate untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak ada seorang pun yang tahu Hoegeng dan Merry adalah pasangan suami istri saat itu.

Selama mendampingi Hoegeng, Merry selalu setia dan penuh pengertian. Padahal ia tak pernah sekalipun mengecap mewahnya kehidupan menjadi istri pejabat negara. Merry tampaknya sudah terbiasa dengan kondisi serba sulit apalagi ditambah dengan kemauan Hoegeng yang tak pernah berpikir untuk hidup mewah.

Saat pindah ke Jakarta, Merry dan Hoegeng juga sempat tinggal di garasi mobil seorang kerabat.

Setelah menjadi perwira, Hoegeng tetap hidup pas-pasan. Untuk itu istrinya, Merry Roeslani membuka toko bunga di garasi rumah dinasnya.

Toko bunga itu ternyata cukup laris dan terus berkembang.

Tapi sehari sebelum Hoegeng dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini jabatan ini disebut dirjen imigrasi) tahun 1960, Hoegeng meminta Merry menutup toko bunga tersebut.

Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan Merry. Apa hubungannya dilantik menjadi kepala jawatan imigrasi dengan menutup toko bunga?

“Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya,” jelas Hoegeng.

Merry yang selalu mendukung suaminya untuk hidup jujur dan bersih memahami maksud permintaan Hoegeng itu.

Ia rela menutup toko bunga yang sudah maju dan besar itu.

Hoegeng diangkat menjadi Kapolri ke-5 pada tahun 1969. Namun jabatan itu disandangnya hanya 2 tahun saja akibat kejujuran dan idealisme yang dimilikinya. Pada 2 Oktober 1971, Hoegeng diberhentikan dari jabatan sebagai Kapolri oleh Presiden Soeharto yang tidak suka karena Hoegeng ngotot untuk menyelidiki kasus pemerkosaan 'Sum Kuning'.

Usai tak menjadi polisi, Hoegeng pulang ke kampung halamannya di Pekalongan untuk bertemu ibunya.

Di sana, Merry menceritakan Hoegeng menyatakan pada ibunya bahwa ia tak lagi memiliki pekerjaan.

"Saya tidak bisa lupakan itu. Dia sungkem lalu berkata, 'saya tidak punya pekerjaan lagi, Bu'. Ibunya mengatakan, 'kalau kamu jujur melangkah, kami masih bisa makan nasi sama garam.' Itu yang bikin kita kuat semua," kenang Merry.

Setelah pensiun sebagai Kapolri, Hoegeng dimasukkan ke dalam daftar hitam sebagai figur yang berlawanan dengan Soeharto.

Ia bahkan dilarang hadir dalam HUT Polri yang diperingati setiap 1 Juli.

"Yang saya ingat itu bapak dipensiunkan umur 49 tahun. Padahal masih banyak yang harus dilakukan. Saya menghadapi waktu yang berat tapi masih mau bekerja membetulkan semuanya," katanya sedih.

Usai pensiun meskipun pernah menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng tidak memiliki rumah dan kendaraan pribadi. Namun Merry terus mendampingi Hoegeng selama lebih dari setengah abad, hingga akhirnya Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004, setelah terserang penyakit stroke dan jantung.

Sesuai wasiatnya, Hoegeng tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Jasadnya akhirnya dikebumikan di Pemakaman Umum Giri Tama, Bogor. Sebuah tempat yang cukup terpencil, untuk mencapainya diperlukan sekitar 1 jam perjalanan dari Stasiun KA Bojong Gede.

Di usia senjanya, Merry masih terlihat bugar. Bicaranya juga masih bagus, dan masih kuat berjalan kaki dengan sehat.
Bahkan ingatan Merry masih tetap kuat, meski seluruh rambutnya telah memutih.

Namun kondisinya belakangan ini agak melemah dan sering sakit-sakitan.

Semoga lekas sembuh Ibu Merry.

(dari berbagai sumber

Wikipedia

Search results

About Me

My photo
Pandeglang, Banten, Indonesia
Hello guys, perkenalkan sama saya Sudianto Sihite,saya lahir di Pakkat 06 Mei 1986,sekarang saya bertugas di Polsek Panimbang sebagai Bhabinkamtibmas Desa Teluklada Sobang,chanel ini saya buat untuk fun dan kini berubah mencoba menjadi lahan berbisnis mencari uang,saya masih pemula,tolong saya dimaafkan jikalau ada kekurangan saya salam membangun chanel ini.Dan bagi Subscriber saya terimakasih banyak sudah setia dengan Chanel saya ini. Contact Person: Email : Trigunawansoekarnomuda@gmail.com Fb ; https://www.facebook.com/h.m.sudianto.sihite Salam berkarya dan tetap semangat guys!!!! HORAS

Contact form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

About Us

About Us
6282312158536

Labels

Categories

Iklan

Facebook

Subscribe Us

Ticker

6/recent/ticker-posts

Most Popular

Popular Posts