Kabar dusta, berita palsu, pernyataan bohong, dan sejenisnya akan terus berbiak menjelang hari pencoblosan pilpres April 2019 mendatang. Ini strategi yang disengaja, didesain secara saintifik dengan memanfaatkan algoritma media sosial dan jejaring internet. Dikemas secara cantik, seolah-olah masuk akal, diisi dusta yang kontroversial, dan didistribusikan melalui pelbagai macam kanal secara serentak. Udara dikepung dusta. Beringsut ke delapan penjuru mata angin.
Mengapa ada orang yang mau mendesain, memproduksi, dan menyebarkan dusta? Hanya satu alasan: duit! Mengapa ada orang terdidik yang mau menyumbangkan waktu, tenaga dan serta peran sentral dalam manufaktur dusta itu? Hanya satu dalih: duit! Mengapa mereka tak terusik secara moral dalam proses pembuatan dan penjalaran dusta? Hanya ada satu pertimbangan: moral tidak tercantum dalam vokabuler politik di Indonesia. Mengapa mereka yang maniak agama melibatkan diri dalam amplifikasi dusta? Ada banyak pembenaran. Salah satunya: siasat. Anggap dan tafsirkan saja lawannya sebagai kafir. Sekian dalil dan sekian sumber tekstual dapat dijadikan panduan. Rampung. Kalau dianggap atau ternyata keliru, ada pintu keluar: pertobatan. Simpel. Mengapa simpel? Karena bagi seorang "politico-religio-maniacal", dosa, pertobatan, dan pengampunan sudah biasa berjalan-jalan di dalam kepalanya. Merasa berdosa, merasa bertobat, dan merasa telah diampuni. Semua berkubang dalam kepalanya sendiri. Dan itu sudah biasa. Ala bisa karena biasa. Simpel bukan?
Tak ada strategi dan taktik yang jitu untuk menghabisi dusta. Sebab *sekali dusta menyebar, dan algoritma berjalan, tak ada yang bisa menghapusnya*, tak juga penyebarnya sendiri. Mereka seperti menyayat guling berisi kapas di atap rumah. Begitu kapas beterbangan disapu angin ke segala penjuru, tak ada lagi yang dapat memungutinya kembali secara utuh.
Dalam politik di negeri ini, moral tak dikenal, hanya modal yang dirapal dan diunthal. Rakyat? Mereka tumbal kekal.

No comments:
Post a Comment